Kamis, 03 Mei 2012

Tuhan, AgamaMu Apa…?



Ketika langit di atas rumah masih berwarna kuning kemerahan, si Noe, gadis kecil yang belum genap 7 tahun itu sedang menyirami anggrek di halaman rumah bersama embah putrinya, perempuan tua berumur 70 tahun.  Si Noe kelihatan asyik sekali menikmati aktivitas menyirami bunga itu.  Gerak geriknya memancarkan keriangan dan kemanjaan khas anak-anak.  Sambil berdiri, tangan kanannya memegangi selang yang memercikkan air ke tanaman, sementara tangan kirinya methentheng di pinggang dan kepalanya agak oleng ke kiri.  Bibirnya menyungging senyum sementara matanya memandangi anggrek yang ia sirami. “Cik..cik…cik…….” begitu bunyi air yang meloncat-loncat bergantian menyentuh tanaman dan jatuh ke tanah.
“Airnya jangan banter-banter,  ya Nok,  supaya bunga anggreknya tidak rontok”,  kata embah putri kepada cucunya.
“Segini ini kebanteren nggak, Mbah..?”, tanya si Noe minta pertimbangan.
“Ya…, segitu itu pas”, kata simbah.
Pembicaraan mereka kemudian terhenti karena masing-masing asyik dengan aktivitas mereka. “Cik..cik…cik..” bunyi air terdengar di antara diamnya simbah dan cucu ini.
Tangan keriput embah putri ini masih terampil  mencabuti rumput-rumput kecil di dalam pot-pot bunga. Memang tangan itu sejak muda telah terlatih melakukan aktivitas demikian karena sering membantu orangtuanya bekerja di sawah sepulang dari sekolah di  desa.  Tangan itu juga sangat terampil merangkai bunga karena sering dimintai tolong menghias altar untuk keperluan misa di kampusnya ketika masih menjadi mahasiswi fakultas teologi.
“Hi…hi…hi….”’ si Noe tertawa-tawa kecil ketika menyaksikan bunga anggrek yang disiraminya itu mengangguk-angguk lucu.
“Mbah, lihat Mbah.  Bunga anggreknya mengangguk-angguk!” kata si Noe kegirangan sambil menunjuk bunga yang sedang disiraminya.
“Wah…iya..ya. Bunga anggreknya mengangguk-angguk”, kata embah putri menanggapi kegirangan cucunya.
“Mbah…  Bunga anggreknya kok mengangguk-angguk  kenapa sih mbah?”, tanya si Noe lugu.
Si embah yang mantan guru agama desa itu termenung sejenak memikirkan jawaban atas pertanyaan cucunya yang polos itu.  Kecerdasannya yang dulu terbukti mampu mengikuti kuliah teologi selama delapan semester dan meraih gelar sarjana dengan predikat Cum Laude,  sekarang sedang diuji oleh pertanyaan cucunya.  Wow, ia menemukan jawabannya!
“Nok,  cah ayu,  bunga anggrek itu mengangguk-angguk karena mengucapkan terima kasih kepadamu. Ia merasa segar karena disirami air setiap hari.   Jadi, ia berterima kasih.”
Mendengar jawaban itu,  si Noe tersenyum senang sambil matanya memandangi bunga yang mengangguk-angguk kepadanya.
“Mbah…  Kata bu guru ngaji, orang yang bisa mengucapkan terima kasih itu orang yang baik.  Bener nggak,  Mbah?” tanya si Noe lagi.
“Pasti, nok”
“Kata bu guru ngaji, orang yang baik itu disayangi Tuhan ya, Mbah” tanya Noe lagi.
“Ya pasti,  nok”
“Orang yang disayangi Tuhan itu besok masuk surga ya, Mbah?”
“Sudah pasti,  nok”
Si Noe diam sejenak,  sementara wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius.  Si embah putri masih memperhatikan perubahan wajah itu namun ia diam tanpa pertanyaan sedikitpun.
“Cik..cik…cik..cik..” suara air terdengar jelas. Gadis kecil yang masih sekolah di Taman Kanak-kanak Santa Maria itu sedang memikirkan pertanyaan yang agak sulit bagi dirinya.   Ia disekolahkan di Santa Maria oleh orangtuanya karena itulah satu-satunya sekolah terdekat,   namun setiap sore  ia belajar mengaji karena kedua orangtuanya adalah muslim yang saleh.  Meski ibunya dulu Katholik,  sekarang beralih menjadi Islam dan rajin sholat karena menikah dengan ayahnya.   Sore ini ia tidak mengaji karena libur.   Guru mengajinya sedang punya hajat menyunatkan anak laki-lakinya.
“Mbah… Teman-teman di sekolah bilang kalau orang yang masuk surga hanya orang yang mengikuti Tuhan Yesus.   Katanya,  tanpa Tuhan Yesus orang tidak bisa masuk surga.  Betul nggak,  Mbah?”
Mbah putri yang sarjana teologi itu agak bingung mencari jawaban pas untuk cucunya yang lugu.  Namun kecerdasannya membantunya untuk menjawab.
“Nok…. cah ayu, Tuhan Yesus itu orang baik sekali.   Dia suka menolong orang lain.  Jadi dia masuk surga.   Semua orang yang baik seperti Tuhan Yesus itu disayangi Tuhan dan masuk surga”.
“Orang yang mengikuti Yesus namanya orang Kristen ya, Mbah?”
“Iya”, jawab embahnya singkat
“Kalau orang Islam, masuk surga juga to, Mbah?”
“Iya dong.  Orang Islam ‘kan berdoa kepada Tuhan dan berbuat baik kepada orang lain.   Jadi disayangi Tuhan”.
Tiba-tiba, “Noe..! Mau ikut sholat sama ibu nggak?” Suara ibunya seketika menghentikan pembicaraan mereka.
“Ikut!” jawab Noe.
“Mbah…  Noe sholat dulu sama ibu ya, Mbah”
“Ya, ya,  sana sholat dulu biar disayangi Tuhan”  jawab simbahnya sambil membereskan selang dan cethok.
Pembicaraan sore itu sangat melekat dalam ingatan Noe,  gadis kecil  itu.   Ia sangat puas dengan jawaban-jawaban embahnya.  Malam harinya, ia tertidur pulas karena senang.  Wajahnya tenang dan nafasnya teratur sekali. Bintik-bintik keringat menempel di dahinya yang bersih.  Ia kemudian bermimpi bertemu Tuhan. Dalam mimpinya, Tuhan seperti embah putrinya dan suka menyiram anggrek.
“Tuhan….  bunga anggreknya mengangguk-angguk berterima kasih kepada Tuhan karena disirami”  kata si Noe cerah sambil menunjuk pada bunga.
“Oh,  iya.  Kamu pintar sekali.  Siapa yang mengajarimu,  Noe?”
“Embah putri”, jawab Noe bangga.
“Wah…   embah putrimu pasti baik sekali.  Senang ya punya embah putri seperti itu” kata Tuhan penuh pengertian.
“Iya, mbah putri baik sekali sama Noe.  Emmm…. orang yang baik seperti embah putri besok masuk surga ya?” tanyanya polos.
“Oh, tentu.   Orang baik seperti embah putrimu pasti masuk surga” kata Tuhan meyakinkan.
“Orang baik seperti Tuhan Yesus juga masuk surga ‘kan?’
“Oh ya, Tuhan Yesus juga masuk surga”
“Orang kristen yang mengikuti Tuhan Yesus dan suka menolong orang lain masuk surga juga ya?”
“Iya”
“Kalau orang Islam,   masuk surga juga?”
“Iya”
“Tuhan….   Tuhan itu kristen apa Islam?” tanya Noe polos sekali.
“Ha…ha…ha..  Nok, cah ayu” jawab Tuhan sambil mengusap kepala si Noe, gadis kecil yang belum genap 7 tahun itu. “Tuhan tidak punya agama, sayang”.
“Tuhan tidak mengikuti Tuhan Yesus?”
“Tidak”
“Tuhan sholat seperti Noe tidak?”
“Tidak”
“Terus,  besok Tuhan masuk surga tidak?” tanya Noe semakin penasaran.
“Sudah pasti,  sayang…” jawab Tuhan sambil tersenyum.
“Lho, kok bisa?” tanya si Noe penuh keheranan.
Tuhan tertawa sambil terus asyik menyiram anggrek, sementara si Noe yang kecil itu terbangun dari mimpinya.***
—————————————————————————————————————————
Cerita ini terinspirasi oleh adanya penangkapan orang yang mengenakan kaos bertuliskan “Tuhan , agamaMu apa..?” oleh Polisi dan FPI di Solo.
Origin by: Indro Suprobo

1 komentar:

  1. Sekedar klarifikasi, tulisan ini saya tulis pada tahun 1999, jauh-jauh tahun sebelum peristiwa gugatan FPI Solo tahun 2011 yang lalu. Sehingga inspirasinya bukan peristiwa tersebut. Terima kasih. Indro Suprobo (penulis)

    BalasHapus