Sebenarnya judul di atas masih ada kelanjutannya yaitu, “Absolute Power Tends to Corrupt Absolutely.” Ini mengutip judul dissertasi seorang jenius asal Jerman, Emmanuel Kant pada paruh kedua abad ke-19 sebagai reaksi atas semakin maraknya tuntutan demokrasi di sebagian besar benua Eropa. Kant dan para pengikutnya yang menyebut diri mereka Kantian, mengamini kecanggihan sistem demokrasi untuk melawan sistem monarki yang sangat dominan pada waktu itu. Sebagai tumbalnya, sistem monarki Perancis yang sudah mapan selama berabad-abad tergilas oleh demokrasi yang dikenal dengan revolusi Perancis.
Dalam banyak hal, sistem demokrasi dianggap sebagai jawaban atas sistem monarki absolut pada saat itu. Namun seiring berjalannya waktu, pada beberapa negara yang menganut sistem demokrasi yang sudah matang, adanya elemen-elemen demokrasi yang tidak berimbang akan juga menghasilkan kekuasaan absolut. Bahkan kekuasaan absolut dalam sistem demokrasi akan “bermain” lebih cantik daripada monarki absolut.
Menyikapi perkembangan politik sekitar Timur Tengah akhir-akhir ini, nampaknya era Kantian masih belum usai. Berawal hanya sekedar keisengan kelompok menengah di Tunisia yang menginginkan perubahan mendasar dalam penerapan demokrasi di negara mereka, hal tersebut menular ke negara tetangga yang dianggap memiliki kemiripan seperti, Mesir, Iran, Bahrain, Yaman dan yang terhangat saat ini, Libya. Meskipun sebagian negara-negara itu sudah menganut sistem demokrasi, rakyat menganggap power yang diberikan kepada pemimpin mereka terlalu berlebihan sehingga ada indikasi menjadi absolut. Power yang absolut memicu kecenderungan corrupt yang absolut.
Saya tidak ingin membicarakan negara lain. Tapi kalau ada sebuah partai politik yang mendulang perolehan suara fantastis dalam kurun waktu hanya delapan tahun semenjak didirikan, dan karenanya memperoleh kekuasaan yang sangat besar dalam legislatif maupun eksekutif, dalil Kant tidak akan meleset. Terlepas dari apakah perolehan suara itu didapat melalui pemilu yang fair, setelah kurang lebih dua tahun semenjak 2009, nampak sudah semakin benderang bahwa power memang memiliki kecenderungan untuk corrupt. Tak perlu banyak diskusi di berbagai forum media nasional, kehadiran corrupt hanya bisa dirasakan. Jauh hari Kant sudah mengingatkan, meskipun negara sudah menganut sistem demokrasi yang matang, tanpa adanya elemen-elemen demokrasi yang berimbang, akan menghasilkan power yang absolut dan absolute power tends to corrupt absolutely.
Semoga pemegang power tidak pernah lupa bahwa akan selalu ada Kantian-kantian muda yang siap mengoreksi power yang diberikan kepada mereka apakah akan cenderung menjadi power yang absolut. Dan semoga angin dari Timur Tengah tidak berhembus semakin ke timur dan membawa dampak yang merata di negara-negara yang dianggap memiliki absolut power.
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar